4 Agt 2017

PETUAH ORANG MUNA, MAKAN dan TANGGA


Jangan makan di atas tangga, mama(ibu)mu bisa meninggal karenanya!. Kalimat ini kerap didengar teman saya semasa kecil. Sepintas terdengar konyol atau setidaknya terlalu lebay. Tidak ada kausalitas yang kuat antara makan di tangga seorang anak dengan kematian mamanya.

Akan tetapi, teman saya penganut idiom “manis jangan cepat di telan, pahit jangan lantas dimuntahkan”. Apakah sedemikian konyolnya leluhur bangsa sulawesi tenggara khususnya orang Muna hingga mewariskan produk budaya yang kelak hanya akan jadi bahan tertawaan?

Salah satu ciri masyarakat yang peradabannya maju adalah kualitas bahasanya. Semakin halus tingkat karsa dan rasanya, semakin halus cipta yang dihasilkan. Di saat bangsa Eropa menginvasi Amerika dengan membantai bangsa Indian, bangsa Muna sudah hidup selaras dengan alam. Saat bangsa Eropa merampas tanah, kita sudah berteman karib dengan tanah. Anda masih ingat praktik “kaago-ago”? Karena ketidaktahuan dan kesimpulan yang terburu-buru, sebagian orang menganggapnya sebagai praktik primitif penyembahan makhluk. Padahal, tidak ada kemesraan paling tinggi dari rasa yang coba diekspresikan via ritual “kaago-ago”.

Peradaban maju identik dengan ekspresi simboliknya termasuk dalam hal berkomunikasi. Praktik “kaago-ago” adalah bentuk komunikasi yang mentransfer rasa ke wujud cipta. Saat rasa kita tak sampai pada maksud rasa, sulit untuk menginterpretasi ciptanya dengan tepat. “Kaago -ago” adalah monumen ucapan terima kasih manusia kepada alam (salah satunya tanah/lahan) setelah sekian banyak manfaat yang diperoleh.

Identik dengan “kaago-ago”, kalimat “Jangan makan di atas tangga, !” adalah bentuk komunikasi kasta puncak untuk menyampaikan rasa (maksud) mewujud teguran. Bagi Anda yang sudah menikah pasti familiar dengan terma “tungguno karete”. Mengapa wakil yang diutus harus bersusah payah menggunakan istilah jagung dan kakak tua hanya untuk bertanya apakah si perempuan sudah ada yang melamar?. Begitulah, semakin halus tingkat rasa, maka kata-kata atau kalimat tak sampai hati harus vulgar.

Kalimat “Jangan makan di atas tangga, mama(ibu)mu bisa meninggal karenanya!” adalah bentuk teguran yang hendak disampaikan oleh orang yang kebetulan melintas. Jika divulgarkan maksudnya kurang lebih begini, “Wahai Ibu penghuni rumah, tolong ajari anakmu adab makan. Anda itu masih hidup atau sudah mati sih, sampai anakmu makan di tangga”.

Untuk konteks kekinian, halusnya kata-kata atau kalimat kelihatannya sudah nyaris punah. Betapa mudahnya kita menghina, merendahkan mengkafirkan orang lain, vulgar lagi. Betapa jatuhnya pamor atau nilai sebuah amanah/kepemimpinan hingga harus dikampanyekan. Betapa mahal sebuah kepercayaan hingga kita harus memintanya. Malulah kita pada leluhur. Bahkan tanah saja mereka muliakan.

catatankita, catatan aku, catatan kamu, untuk kita semua

Jangan Lupa Komentar Anda :